




Kisahnya
Sinta dan Dimas menyukai film klasik, dan meminta ballroom yang terasa seperti salah satunya. Kami mengambil volume ruangan dan menghangatkannya dengan ratusan lilin pada ketinggian berbeda.
Malam dimulai dengan upacara singkat, dilanjutkan jamuan duduk dan lantai dansa yang tetap penuh hingga tengah malam.
Persiapan
Ballroom Aurelia megah namun bernuansa dingin, sehingga pekerjaan desain dimulai dari cahaya, bukan bunga. Kami membuat simulasi satu sudut ruangan dengan tiga tinggi lilin dan dua pilihan drapery langit-langit sebelum pasangan menyetujui arahnya.
Menata tiga ratus dua puluh tamu tanpa kehilangan kehangatan membutuhkan beberapa denah. Kami memilih meja bundar dalam bentuk bulan sabit longgar mengelilingi panggung, sehingga setiap tamu dapat melihat pasangan dan band dengan mudah.
Hari H
Pintu dibuka pukul enam ke ruangan yang bercahaya keemasan, dengan trio jazz memainkan lagu-lagu dari film kesukaan Sinta dan Dimas. Prosesi berlangsung dua puluh menit dan ditutup dengan seluruh tamu berdiri saat lampu perlahan menyala di atas lantai dansa.
Makan malam empat hidangan berjalan dengan pelayanan yang tepat waktu, lalu meja dirapikan untuk berdansa. Dessert station malam dibuka pukul sepuluh dan sudah habis pukul sebelas, yang kami anggap sebagai pertanda baik.
Sorotan
Pencahayaan menjadi alat desain utama, berlapis dari lilin rendah hingga cahaya langit-langit berdrape.
- 320 tamu duduk dengan pandangan jelas ke panggung
- Makan malam empat hidangan dengan pilihan vegetarian di setiap meja
- Trio jazz langsung dan stasiun dessert tengah malam



