




Kisahnya
Alya dan Raka menginginkan pernikahan yang dikenali oleh kakek nenek mereka. Kami menyusun akhir pekan itu mengikuti seluruh rangkaian adat Jawa, dari siraman saat fajar hingga panggih, dengan kedua keluarga terlibat di setiap langkah.
Pendopo memberi irama pada hari itu. Sisi terbuka, tiang jati berukir, dan cahaya sore yang hangat membuat hampir tidak ada yang perlu ditambah, hanya ketelitian dalam memilih apa yang kami letakkan.
Persiapan
Persiapan dimulai sebelas bulan sebelumnya dengan sore panjang di rumah keluarga di Solo. Nenek Alya menuntun kami melalui setiap prosesi yang ia ingat dari pernikahannya sendiri, dan kami menuliskan tiap langkah ke dalam rundown bersama yang bisa dikomentari kedua keluarga.
Perias paes ageng, kelompok gamelan, dan batik untuk seragam keluarga kami datangkan dari perajin di Surakarta sendiri, sehingga setiap detail membawa sentuhan kota itu. Dua kali gladi lengkap di pendopo menjaga waktu tetap tepat.
Hari H
Siraman dimulai pukul enam, dengan tujuh sesepuh menuangkan air bunga saat matahari muncul di atas tembok halaman. Menjelang siang, rumah berubah menjadi ruang kerja yang tenang untuk rias, fitting, dan pengecekan akhir, sementara tim kami menyiapkan pendopo.
Prosesi panggih berlangsung pada sore hari. Tamu berdiri di bawah atap berukir saat pasangan saling melempar sirih, dan gamelan mengiringi semua orang menuju jamuan duduk panjang yang berlangsung hingga malam.
Sorotan
Penataan dibuat dekat dengan palet venue, emas di atas gading dengan bunga blush lembut, agar arsitektur tetap menjadi bintangnya.
- Rangkaian siraman, midodareni, dan panggih dikoordinasikan untuk 450 tamu
- Rias pengantin dan paes ageng oleh perias adat
- Jamuan duduk khas Jawa dengan gamelan langsung



