




Kisahnya
Putri dan Fajar sama-sama berasal dari keluarga yang berakar kuat di Yogyakarta. Arahannya adalah menghormati adat dengan tepat, dan membuat lima ratus tamu tetap nyaman.
Kami bekerja bersama para sesepuh keluarga pada setiap upacara, lalu menerjemahkan rundown menjadi jadwal yang dapat dijalankan tim lapangan kami tepat waktu.
Persiapan
Bulan-bulan pertama kami habiskan untuk mendengarkan. Para sesepuh kedua keluarga menjelaskan urutan prosesi adat Yogyakarta, makna setiap benda, dan detail kecil yang sering terlewat. Setiap catatan masuk ke satu dokumen bersama.
Dari situ kami menyusun rundown menit demi menit untuk lima ratus tamu, dengan alur terpisah untuk keluarga, tamu kehormatan, dan resepsi umum. Para penerima tamu mendapat arahan beserta denah tempat duduk seminggu sebelumnya.
Hari H
Akad berlangsung pagi hari di hadapan keluarga inti, dilanjutkan prosesi panggih di aula. Putri mengenakan paes ageng gaya Yogyakarta, dan keluarga Fajar membawa keris pusaka yang telah dikenakan tiga generasi.
Resepsi dibuka dengan tari klasik dan berlanjut ke prasmanan yang disajikan dari enam stasiun agar antrean tetap pendek. Ruang keluarga memberi tempat tenang bagi para sesepuh untuk beristirahat di sela menerima ucapan.
Sorotan
Terakota, krem, dan kuningan dipakai di seluruh ruangan, menggemakan batu dan jati gedung.
- Rias dan busana pengantin bergaya keraton
- Tempat duduk untuk lima ratus tamu dengan lounge keluarga terpisah
- Pertunjukan tari tradisional saat resepsi



